• HOME
  • CORETAN DINDING

CORETAN DINDING


Rutinitas pagi hari setelah masuk kantor saya memeriksa laporan hasil produksi berupa costcenter, yang berlangsung kurang lebih antara jam 7.30 hingga jam 9.30 wib, disela waktu tersebut telepon di meja berdering, “Selamat pagi pak !, terdengar suara dari seberang, “begini pak, tadi sewaktu saya mengontrol kondisi kamar mandi pria, ada satu kamar mandi yang banyak tulisan dengan pensil, bunyinya banyak makian yang ditujukan kepada pimpinan dan bapak sendiri, kira-kira bagaimana tanggapan bapak ?. “ Saya kan belum lihat, ntar dilihat dulu ya”, jawab saya.

Jam menunjukkan pukul 10.15 wib saya pun beranjak dari ruangan menuju kamar mandi yang berada diluar gedung, waktu ini sepertinya kebiasaan saya tuk buang air kecil,ketika saya masuk dan membuka pintu terlihat sebuah coretan dinding “ BOSMAY ANJING DARI CHINA”,” oh ini rupanya tulisan tersebut yang dilaporkan pihak audit tadi”, ucap batin saya.

Sesaat setelah saya berbalik dan jongkok, terpampang sebuah tulisan “NAMAKU ALAT VITAL CHINA”. Buang hajat tetap saya teruskan sambil berfikir, ternyata dalam keseharian bekerja, kebijakan perusahaan yang dijalankan sebaik-baiknya dengan berusaha tanpa ada gesekan serta secara hati-hati dalam memberi perintah maupun intruksi, baik berupa teguran sanksi maupun nasehat kepada bawahan, masih ada juga yang tidak senang, artinya baik menurut saya belum tentu baik menurut orang lain.

Bagaimana cara mendapatkan orang yang menulis ini semua?

Mungkinkah anak buahku yang melakukannya ?, sedangkan kedekatan yang ku bangun layaknya sebuah keluarga besar.

Ataukah ini kerjaan para audit untuk mencoba merusak keharmonisan yang telah terbangun?.

Atau ini perintah pimpinan perusahan untuk menjaga agar tercipta konflik interest antara atasan dengan bawahan ?

Berbagai pertanyaan muncul dibenak, hingga ku putuskan tuk’ membuat sebuah action plan yang dapat menghentikan tulisan-tulisan seperti ini kedepannya, terlepas dari siapapun yang melakukannya.

Usai dari kamar mandi saya kembali ke ruangan dan saya bertanya pada asisten kordinator administrasi saya “ Dik! Coba kamu bayangkan jika “ANU CHINA SE GEDE SAYA”,tanpa sadar dia menjawab “BESAR SEKALI PAK, APA ADA ?” lalu saya jawab. “Yach tak mungkin ada, tentu gila tuh orang yang tulis beginian di kamar mandi”, sambil   mengambil beberapa lembar blangko surat pernyataan  serta pensil, kemudian saya memanggil para kepala bagian dan kepala regu di divisi produksi,  “ kepada Karu dan Kabag, tolong arahkan para karyawan pria untuk jumpai saya di kamar mandi satu persatu dikarenakan ada tulisan seperti ini”. Selanjutnya saya beranjak ke kamar mandi dan menunggu kedatangan karyawan.

Ditengah terik matahari datang seorang karyawan, langsung saya beri pinsil dan saya perintahkan untuk menuliskan kembali seperti tulisan yang ada dikamar mandi dan dia tidak bersedia. Lalu saya katakan jika tidak mau, berarti menolak perintah yang layak dari atasan beresiko di SP 3, ternyata dia tetap ngotot tidak bersedia, akhirnya saya berikan lembar surat pernyataan agar dia isi bahwasanya tidak bersedia menjalankan perintah yang layak dari atasan dan dia langsung mengisi blangko tersebut dengan senang hati, kemudian saya suruh dia tuk kembali bekerja.

Berikutnya datang dan saya perintahkan tuk menulis seperti diatas, kembali terjadi penolakan. Setelah saya katakan resikonya di SP, dia pun memohon izin tuk menuliskannya dengan beberapa kali meminta maaf kepada saya sebelum melakukannya.

Berikutnya lagi karyawan lainnya datang dan tidak mau sama sekali menuliskan di dinding dan bersedia di SP.

Selanjutnya datang karyawan dan seperti diatas saya perintahkan lagi, maka dia langsung memohon maaf untuk menuliskan kata-kata tersebut.

Selanjutnya ada karyawan yang datang dan begitu diperintahkan tulis kata-kata tersebut diatas dianya tanpa basa-basi langsung menuliskannya.

Begitulah seterusnya hingga kurang lebih 125 orang karyawan yang diperintahkan tersebut berprilaku seperti ketiga orang sebelumnya, hingga saya mengkategorikan ada tiga tipikal karyawan yang memiliki loyalitas kepada atasannya:

  1. Tipikal loyalitas penuh tanpa rasa takut.
  2. Loyalitas setengah, masih ada rasa takut hukuman.
  3. Loyalitas mengambang.

Setelah pekerjaan coret menyoret dinding dilakukan oleh para karyawan usai, saya kembali mengambil cat tembok dengan warna yang sama dengan cat awal dan kuas kecil (kuas lukis), kembali saya perintahkan kepada seluruh karyawan pria untuk menutup tulisan mereka sendiri dengan cat tersebut.

Usainya intruksi saya untuk melakukan penutupan tulisan tersebut dengan cat, kembali saya ambil kuas yang lebih besar dan saya bagikan kepada mereka agar kembali mengecat dinding sebersih mungkin tanpa ada terlihat tulisan-tulisan.

Tanpa terasa waktu sudah berjalan selama tiga minggu, tanpa mengganggu jalannya produksi dan usai sudah penanganan kasus coretan dinding.

Seperti biasanya saya mengikuti 3 kali rapat dalam satu minggu dan ketika rapat pada hari kamis, ditanyakan oleh pimpinan dengan pertanyaan “ apakah kamu sudah dapatkan orang yang menulis tulisan tidak senonoh tersebut?,. maka saya katakan “tidak dan saya melakukan itu bukan untuk mencari siapa pelakunya tapi saya hanya membentuk opini baru dan menciptakan perang mental agar terbentuk konflik interset diantara sesama karyawan”.

Demikianlah cerita ini dibuat sebagai bahan pembelajaran para pemimpin di lingkungan perusahaan atau dilingkungan masyarakat, sebab penyelesaian persoalan yang paling efektif bukan pada penangkapan pelakunya tapi penciptaan sistem managemen partisipasi.

by: bong adha